My Quote Today

On the stage he was natural, simple, affecting. It was only when he was off, he was acting
glitter-graphic.com

Kamis, 10 Februari 2011

Antara IPB, BPOM, Pemerintah, Komnas PA, dan Putusan MA

Pemerintah lebih melindungi produsen daripada masyarakat. Kemenkes, Badan POM, dan IPB telah melawan hukum dengan membangkang putusan MA.

PEMERINTAH tetap menolak memberikan informasi kepada publik mengenai merek produk susu formula yang terkontaminasi bakteri enterobacter sakazakii (ES), hasil kajian Institut Pertanian Bogor (IPB) pada 2003-2006.

Dengan penolakan itu, berarti pemerintah membangkang putusan kasasi Mahkamah Agung (MA) RI Nomor 2975 K/Pdt/2009 tertanggal 26 April 2010 yang mewajibkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM), dan IPB menginformasikan merek susu terkontaminasi kepada publik.

"Tiap hari saya diminta menyebutkan merek susu formula. Padahal biar Kemenkes atau Badan POM terus digencet dan dipencet, tetap saja kita tidak bisa memberi keterangan," ujar Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih, dalam keterangan persnya di Kantor Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), di Jakarta, kemarin.

Dalam pertemuan yang dihadiri Kepala Badan POM Kustantinah dan dimoderatori Menteri Kominfo Tifatul Sembiring, Menkes berdalih, hanya IPB satu-satunya pihak yang tahu perihal merek susu formula itu sebab IPB-lah yang melakukan kajian.

Kemenkes, lanjutnya, juga tidak bisa memaksa IPB untuk melaporkan hasil penelitiannya ke Kemenkes dan Badan POM karena penelitian ilmiah bersifat independen

Pada keterangan pers itu, Menkes malah lebih banyak mengulang keterangan bahwa susu tercemar bakteri ES hanya berbahaya bagi bayi baru lahir, bayi berusia kurang dari 2 bulan, bayi lahir prematur, dan bayi dengan imunitas rendah.

"Karena itulah, sejak dahulu pemerintah menganjurkan bayi di bawah enam bulan wajib mengonsumsi ASI eksklusif tanpa putus," tambahnya.

Kepala Badan POM Kustantinah malah menjelaskan hasil penelitian Badan POM terhadap susu formula dari 2009 hingga Februari 2011 yang negatif tercemar bakteri ES.

Sementara itu, IPB beralasan, pihaknya sampai kemarin belum menerima pemberitahuan putusan MA itu dari Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat yang memutus perkara. "Kita belum tahu amar putusannya, jadi belum bisa memberikan apa yang diminta pengadilan," ujar Kepala Kantor Hukum dan Organisasi IPB, Dedi Muhammad Tauhid.


Dalam menanggapi sikap pemerintah yang tidak melaksanakan putusan MA tersebut, Komnas Perlindungan Anak (PA) akan mengumumkan nama 22 merek susu formula yang diduga tercemar bakteri ES.

"Kemenkes, Badan POM, dan IPB telah melawan hukum dengan membangkang putusan MA untuk membeberkan merek susu ke publik. Kita terpaksa mengajukan permohonan sita eksekusi ke PN Jakarta Pusat. Kalau perlu, kita yang mengumumkan merek susu itu," ujar Ketua Komnas PA Arist Merdeka Sirait.

Sementara itu, David Tobing, penggugat yang meminta Kemenkes membuka nama-nama produsen susu tercemar ES, akan melaporkan sikap pemerintah itu ke Mabes Polri dan KIP (Komisi Informasi Publik).

"Pemerintah lebih melindungi produsen daripada masyarakat," ujar David.

Direktur Litigasi Perundang-undangan Kementerian Hukum dan HAM Mualimin Abdi mengatakan pemerintah tidak perlu mematuhi putusan MA kalau ternyata dapat menimbulkan keresahan baru di masyarakat.
Sumber : Media Indonesia

Mengapa Hasil Penelitian Susu Formula IPB dan BPOM Berbeda?

Jakarta, Banyak yang penasaran menanti pengumuman merek susu yang terkontaminasi Enterobacter Sakazakii. Sayang susu yang dipakai penelitian IPB tersebut batal diumumkan, malah BPOM menyampaikan hasil yang berbeda yakni tidak ada susu yang terkontaminasi bakteri tersebut.

Penelitian yang dilakukan Insitut Pertanian Bogor antara tahun 2003-2006 menemukan 22 sampel susu formula yang mengandung bakteri Enterobacter Sakazakii dengan kadar 22,73 persen. Hasil penelitian selama 2003-2006 itu baru dipublikasikan IPB tahun 2008. Sejak itu sebagian masyarakat jadi panik dan penasaran, sebab hingga kini IPB tidak pernah menyebutkan merek apa saja yang terkontaminasi.

 

Buntut dari penelitian tersebut, menteri kesehatan dituntut oleh konsumen bernama David Tobing yang meminta susu yang tercemar tersebut diumumkan. Gugatan David Tobing menang di Pengadilan dan juga menang di MA. Untuk menindaklanjuti keputusan MA, Menteri Kesehatan memberikan penjelasan pada Kamis ini (10/2/2011).

Alih-alih terjawab rasa penasarannya, Badan Pengawasan Obat dan Makanan dalam jumpa pers di Kementerian Komunikasi dan Informasi, Kamis (10/2/2011) malah mengumumkan hasil penelitian yang bertolak belakang. Menurut BPOM, antara tahun 2008-2011 pihaknya tidak menemukan adanya susu yang tercemar.

Penelitian pertama dilakukan BPOM awal tahun 2008, hasilnya tidak ada satupun dari 96 sampel susu formula yang terkontaminasi Enterobacter Sakazakii. Pada saat itu, standar tentang keberadaan E.Sakazakii memang belum diatur dalam Codex (Standar Internasional Kesehatan Konsumen).

Codex baru menetapkan standar baru bahwa susu formula tidak boleh mengandung E.Sakazakii pada bulan Juli 2008. Sebagai salah astu anggota Codex, Indonesia mengadopsi standar tersebut pada Oktober 2008 dan menjadikannya standar nasional.

Setelah standar baru ditetapkan, BPOM kembali melakukan penelitian terhadap 11 sampel susu formula pada tahun 2009 dan lagi-lagi tidak menemukan sampel yang terkontaminasi. Sedangkan untuk tahun 2011, hingga bulan Februari telah meneliti 18 sampel dan belum juga menemukan ada cemaran E.Sakazakii.

Hasil penelitian BPOM jelas berbeda dengan IPB yang sebelumnya mengatakan ada 22 sampel susu formula yang terkontaminasi. IPB memakai sampel susu antara 2003-2006, sedangkan pemerintah melalui BPOM menggunakan sampel susu tahun 2008-2011.

Perbedaan ini makin memancing rasa ingin tahu, mana di antara keduanya yang lebih bisa dipercaya karena menyangkut keamanan konsumen. Tapi Menteri Kesehatan punya jawabannya.

"Dalam setahun produksi susu terus berjalan dan kadang-kadang langsung beberapa batch. Mungkin saat diteliti ada batch tertentu yang terkontaminasi, lalu dalam penelitian lain yang terambil dalam batch yang lain yang steril," ungkap Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih dalam jumpa pers tersebut.

Lebih lanjut Menkes menambahkan, secara alami E.Sakazakii bisa ditemukan di lingkungan, baik dalam makanan, usus manusia sehat maupun usus beberapa spesies binatang dan tidak semuanya berbahaya. Jenis yang berbahaya bisa memicu diare, infeksi pencernaan bahkan meningitis jika menyerang sistem saraf.

Masih menurut Menkes, kontaminasi E.Sakazakii dalam susu formula bisa terjadi sejak pengolahan bahan baku maupun proses pasteurisasi (pemanasan) yang tidak steril. Selain itu, proses penyiapan sebelum dikonsumsi juga bisa mencemari susu terutama jika tidak cuci tangan dulu dan alat yang dipakai tidak steril.

"Bakteri ini sebenarnya gampang mati, dengan pemanasan 70 derajat celcius saja sudah mati. Selain itu, pastikan cuci tangan sebelum menyiapkan susu dan jangan mengkonsumsi susu yang sudah disiapkan sejak 2 jam sebelumnya. Susu yang sudah disiapkan lebih dari 2 jam harus dibuang dan ganti dengan yang baru," tambah Menkes.

Jadi kesimpulannya menurut pemerintah bisa saja sampel susu yang digunakan dalam penelitian oleh IPB kebetulan adalah susu yang terkontaminasi, tapi dalam beberapa batch lain bakteri itu tidak ada. Menkes juga mengaku tidak bisa memaksa IPB untuk mengumumkan karena IPB tidak punya kewajiban melaporkan hasil penelitian ke Kementerian Kesehatan.

"Penelitian ini dilakukan IPB, sebuah universitas yang kredibel dan punya independensi. Jadi tidak punya kewajiban melaporkan hasil penelitiannya ke Kementerian Kesehatan," kata Menkes.

Sementara hingga kini masyarakat masih penasaran susu apa sih yang digunakan untuk penelitian IPB tahun 2003-2006 tersebut? Hanya penelitinya saja yang tahu.

sumber : diadopsi dari healthdetik dengan beberapa perubahan

Rabu, 09 Februari 2011

Jiwa Kemoderatan dalam Keberagaman


Keberagaman adalah sesuatu yang harus kita syukuri karena telah memberikan warna dan dinamisasi kehidupan. Keberagaman bukanlah suatu pembeda melainkan sebuah penyatu dan pembanding yang memberikan kesempatan kepada kita untuk memilih keindahan kehidupan ini. Jika setiap individu sudah memahami hal tersebut, konflik yang disebabkan adanya keberagaman tidak mungkin terjadi. Terbentuknya sebuah masyarakat yang memiliki toleransi dalam mewadahi berbagai macam etnis, agama, ras, kebudayaan, dan kelompok yang masing-masing memiliki hak mempraktekkan dan mengembangkan kultur tradisional serta keyakinannya dalam bingkai harmonisasi peradaban bukan lagi sebuah mimpi. Akan tetapi, pada kenyataannya banyak individu dan masyarakat yang belum memahami hal tersebut. Banyak di antara mereka yang memaksakan versi kebenaran menurut pendapat mereka sehingga menimbulkan keresahan di masyarakat secara keseluruhan. Sebagai contoh, terjadinya konflik masalah rumah peribadatan yang terjadi di Bekasi kemarin. Secara hakiki, agama ada di antara kita untuk menciptakan ketenangan dan harmonisasi kebenaran dalam kehidupan ini. Dalam konsep Islam, adanya sikap saling menghormati dalam perbedaan dijelaskan oleh Allah Swt dalam Q.S Al-Maidah ayat 48 yang memberikan petunjuk bahwa jika Allah Swt berkehendak, Dia dapat menjadikan seluruh umat manusia ini satu umat yang seragam tetapi justru Allah Swt menentukan sebaliknya. Intinya keberagaman dalam segala aspek kehidupan adalah sunnatullah yang harus kita syukuri. Sikap saling menghormati dan menghargai antarumat beragama harus terus dibina agar tercipta suatu keharmonisan. Keharmonisan di sini bukan berarti sebuah peleburan teologi tetapi bertujuan untuk saling memahami rasionalitas setiap ajaran agar dapat menghormati perbedaan persepsi masing-masing mengenai iman dan aktualisasinya (Yamadhipati, 2008).

Sikap menghargai keberagaman dapat terwujud ketika setiap individu sudah mampu memahami bahwa dunia ini diisi oleh milyaran orang yang masing-masing memiliki keunikan karakter dan membawa kebudayaan yang berbeda-beda. Di Indonesia sendiri terdapat berbagai macam suku bangsa, agama, adat istiadat, dan bahasa daerah yang memiliki karakteristik yang berbeda satu dengan yang lainnya. Sikap fleksibilitas dan mampu beradaptasi dalam segala kondisi keberagaman kebudayaan Indonesia akan menjadikan kita lebih toleran walaupun ada batasan-batasan tertentu berdasarkan prinsip dan keyakinan yang kita pegang. Sikap seperti ini biasa disebut sebagai sikap moderat. Secara harfiah moderate berarti sedang-sedang saja, jalan tengah, dan tidak berlebihan. Berdasarkan definisi di atas, saya berpendapat bahwa moderat adalah suatu sikap individu yang mengedepankan toleransi dalam keberagaman berdasarkan prinsip dan keyakinan yang dia pegang. Dalam menyelesaikan suatu konflik, orang yang mempunyai sikap moderat tidak akan memihak salah satu sisi tetapi mencari akar permasalahannya sehingga dapat menemukan solusi yang terbaik untuk menyelesaikan konflik tersebut berdasarkan prinsip keadilan.


Dasar Negara Indonesia yang berdasarkan Pancasila dengan lambang negara Burung Garuda semakin mempertegas bahwa jiwa kemoderatan perlu ditumbuhkan. Keberagaman Indonesia yang terlukis melalui kata “ Bhineka Tunggal Ika” selama ini kita percayai sebagai identitas dan kepribadian bangsa Indonesia yang menghargai keberagaman dapat kita realisasikan dalam kehidupan bernegara. Kesadaran hidup bernegara yang terwujud dalam setiap aspek kehidupan baik itu ekonomi, politik, kepercayaan, dan bidang lainnya dapat mewujudkan persatuan dan kesatuan Indonesia secara seutuhnya. Untuk mencapai hal tersebut, banyak cara yang dapat kita lakukan sebagai generasi pewaris peradaban bangsa. Langkah awal yang yang harus kita lakukan adalah menumbuhkan jiwa nasionalisme dan rasa memiliki bangsa ini. Kita harus menyadari bahwa bangsa ini membutuhkan kontribusi terbaik dari sekluruh elemen masyarakat agar bangsa ini bias bangkit dari keterpurukan. Selama ini, kita terlalu sibuk mempersoalkan perbedaan-perbedaan kecil di antara kita dan tidak menyadari persamaan besar yang ada, yaitu sebuah tujuan mulia untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik dan bermartabat. Tujuan inilah yang harus menjadi dasar bagi kita untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa. selain itu perlu sebuah tindakan nyata dari kita bersama untuk menyelesaikan berbagai macam permasalahan yang dihadapi bangsa ini secara bersama-sama. Ada beberapa contoh masalah bangsa yang harus diselesaikan secara bersama-sama dengan mengedepankan rasa kekeluargaan. Pertama, krisis moral dan etika dalam berbagai tataran kehidupan cukup banyak yang terlihat, seperti merebaknya budaya korupsi, kolusi, kurang menjaga martabat dan kurang disiplin. Kedua, eskalasi konflik yang merupakan konflik antarsesama masih terus bermunculan. Bahkan mencapai eskalasi tinggi sehingga kurang mendukung keharmonisan dan mengancam integrasi sosial. Ketiga, stigma keterpurukan bangsa Indonesia yang memperlemah bargaining position , baik di forum-forum regional maupun internasional. Keempat, memudarnya identitas bangsa, semangat dan komitmen politik untuk memelihara persatuan bangsa dalam arti sosial dan budaya mengalami pengendoran, bahkan menjurus ke keretakan. Masih banyak hal yang harus kita benahi, misalnya korupsi dan penyalahgunaan wewenang, kemiskinan dan pengangguran serta kebodohan, kriminalitas dan kerawanan sosial, konflik dan kekerasan serta keretakan nasional dan ancaman disintegrasi bangsa, ketergantungan pada dominasi asing, kerusakan etika dan budaya serta kelemahan kepemimpinan.

Jiwa kemoderatan yang dibangun di sini bertujuan untuk melakukan proses transformasi struktural dan kultural, dimulai dengan membangun paradigma baru kehidupan berbangsa dan bernegara yang mengedepankan moralitas dan penegakan hukum, kesantunan politik beretika, kematangan dan kearifan demokrasi, serta kemandirian berekonomi, di samping upaya yang sungguh-sungguh untuk membangun titik temu, kebersamaan, persatuan dan sinergi di antara berbagai komponen bangsa. kemoderatan dalam segala aspek kehidupan bangsa berdasarkan nilai dan norma yang berlaku akan menjadikan bangsa ini menjadi lebih kuat dan dapat bersaingan dikanca internasional. Keberagaman harus kita sikapi dengan bijak karena itu adalah modal yang sangat besar agar bangsa ini bias terus menjadi lebih baik. Saat kita di sini hanya sibuk mempertahankan pendapat golongan sendiri dan saling menjatuhkan satu dengan yang lainnya, di luar sana bangsa-bangsa yang lain terus berkembang dengan sangat pesat. Untuk itulah harus kita sadari bahwa konflik antar sesama hanya akan menimbulkan kerugian bagi bangsa ini. Daripada kita hanya sibuk mempersoalkan keberagaman dan perbedaan pendapat, alangkah baiknya kita bersama-sama melakukan terobosan pemikiran-pemikiran intelektualitas dan kreativitas yang mengembangkan berbagai pembaharuan dan penemuan teknologi dan cara-cara baru yang dapat mendukung kehidupan dan memberikan manfaat kepada sesama. Teknologi merupakan hasil dari pemikiran dan kreativitas manusia yang nyata dan langsung dapat dimanfaatkan untuk kepentingan umat manusia. Ketiga hal itulah yang harus dikuasai oleh bangsa Indonesia agar dapat mendayagunakan sumber daya alam yang melimpah secara bijaksana untuk Indonesia yang lebih baik dan bermartabat. Selain itu juga, kita harus mempererat hubungan di antara kita agar terbentuk sebuah networking bangsa yang kuat. Networking yang merupakan hasil dari interaksi individu dengan lingkungannya yang membentuk suatu pola hubungan dan kedekatan di antara masing-masing pihak. Hal inilah yang perlu kita lakukan demi terwujudnya bangsa Indonesia yang menghargai dan menghormati keberagaman dan menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan.


Daftar Pustaka
[PPSDMS NF]. 2010. Pedoman Sistem dan Manajemen Pembinaan. Jakarta: PPSDMS NF.
Yamadhipati. 2008. Pluralisme:Harmoni dalam Keberagaman. Afkar PCINU Mesir. URL: http://yamadhipati.blogspot.com/2008/10/pluralisme-harmoni-keberagaman.html. Diunduh 16 September 2010.


PENTINGNYA MENJAGA LINGKUNGAN HIDUP DALAM PANDANGAN ISLAM


Lingkungan hidup adalah anugerah terbesar yang diberikan oleh Allah Swt kepada manusia. Akan tetapi, masih banyak orang yang belum memahami hal tersebut. Sebagai contoh, masalah sampah yang sampai saat ini masih belum terselesaikan. Ironisnya, mayoritas masyarakat Indonesia menganggap bahwa sampah merupakan hal yang lumrah di lingkungan. Jika asumsi ini benar, berarti kita sedang dihadapkan dengan suatu masalah lingkungan hidup yang luar biasa. Satu orang yang mengabaikan masalah sampah ini, tentu bukan masalah besar bagi kita. Namun, jika seratus orang, seribu, sejuta, bahkan mayoritas warga negara Indonesia mengabaikan masalah ini, dapat kita bayangkan dampak lingkungan yang terjadi pada bangsa kita di masa depan
            Masalah lingkungan hidup adalah masalah yang sangat serius. Disadari atau tidak, setiap kegiatan yang kita lakukan pasti berinteraksi dengan lingkungan. Potensi kita untuk melakukan kerusakan lingkungan pasti selalu ada. Misalnya, kita tinjau dari aspek ekonomi yang merupakan kebutuhan hidup mendasar manusia. Tindakan manusia dalam membangun perekonomian yang berorientasi pada pengelolaan sumber daya alam dengan dukungan industri telah meningkatkan eksploitasi terhadap sumber daya alam dan kebutuhan energi yang mengganggu kestabilan ekosistem, misalnya pencemaran air sungai akibat limbah buangan industri dan aplikasi pestisida, kerusakan ekosistem pantai akibat penebangan vegetasi mangrove, pencemaran udara oleh CO2 hasil pembakaran bahan fosil, kerusakan tanah akibat pemupukan yang berlebihan, dan masih banyak yang lainnya. Dalam hal ini, Allah Swt berfirman :
“Maka mengapa tidak ada dari umat-umat yang sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang daripada (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebahagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka, dan orang-orang yang zalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa.” (Q.S. Hud : 116).
Allah Swt mengancam orang-orang yang sering melakukan perusakan lingkungan hidup  dengan bencana alam ataupun penyebaran wabah penyakit karena mereka telah menghilangkan keseimbangan ekosistem makhluk hidup di bumi ini. Allah Swt berfirman, “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (Q.S. Ar-Rum: 41).
Dalam surat yang lainnya, Al-Qur’an memposisikan kedudukan orang-orang yang melakukan perusakan terhadap lingkungan hidup hampir sekelas dengan kaum kafir yang diancam dengan azab yang sangat pedih sesuai dengan firman Allah Swt dalam Q.S. Al- Maidah : 55 yang berbunyi :
 “Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar”.
            Dari penjelasan di atas, kita dapat menarik sebuah kesimpulan bahwa Islam mewajibkan kita semua agar selalu senantiasa menjaga lingkungan hidup. Gerakan untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup harus terus kita bina agar kita dapat meminimalisir kerusakan lingkungan yang tejadi. Lingkungan hidup yang lestari akan menjadikan kehidupan kita di masa yang akan datang menjadi lebih baik.

Jumat, 04 Februari 2011

Ketika Warga Melaporkan Kondisi Mesir untuk Indonesia

Pagi ini, saya mendapatkan pesan dari Bisyri, Kompasianer yang sedang belajar di Al-Azhar, Kairo, terkait aktifitas warga Indonesia yang berada di Mesir. Pesan yang cukup singkat, tapi saya menangkapnya sebagai sebuah perasaan dan kondisi teman-teman Indonesia lain di sana yang harus diinformasikan dengan segera.
Bisyri mengabarkan hadirnya sebuah grup Facebook yang dibuat mahasiswa Indonesia di Mesir. Grup itu diberi nama “MENDESAK EVAKUASI TOTAL MASISIR“. Dari namanya, sekilas kita bisa menangkap keinginan masyarakat Indonesia agar segera dievakuasi dari Mesir karena kondisi politik di sana semakin hari bertambah buruk. Tapi lebih dari itu, seperti diungkapkan Bisyri, grup tersebut merupakan corong informasi dari warga Indonesia di Kairo dan kota-kota Mesir lain dengan harapan bisa segera diketahui semua orang, khususnya masyarakat dan pemerintah Indonesia di tanah air.
Grup ini dibuat bukan sekedar merespon program evakuasi bertahap yang sudah dilakukan Departemen Luar Negeri. Tapi lebih dari itu, seperti saya tangkap dari beberapa informasi WNI di Mesir, gerakan online tersebut merupakan respon cepat atas dibukanya kembali akses internet di mesir yang sebelumnya sempat ditutup.
Saya segera menuju ke grup dimaksud dan menemukan banyak sekali informasi, baik dari kalangan pekerja maupun mahasiswa. Mereka tidak hanya membicarakan seputar evakuasi warga tapi juga kondisi Kairo dari waktu ke waktu.
Sebelum grup itu dibuat, Kompasianer yang tinggal di Mesir juga sudah lama melaporkan apa yang mereka dan rasakan selama prahara politik berlangsung. Informasi dan berita yang mereka tulis, sekecil apapun cakupannya, sangat bermanfaat untuk kita yang berada jauh dari Mesir, khususnya untuk keluarga yang menanti kabar terbaru dari sanak familinya yang tinggal di sana.
Segera setelah membaca pesan dari Bisyri dan menelisik informasi di grup FB (yang dari situ terdapat banyak sekali bahan berita yang bisa ditulis), saya langsung menulis sebuah berita di KOMPAS.com seputar geliat WNI dalam memberitakan kondisi terkini di Mesir.
Berita itu tayang tadi pagi, dan saya salinkan kembali di sini sebagai penyemangat bagi WNI lain untuk segera melaporkan perkembangan Mesir di Kompasiana.
Mengapa di Kompasiana? Karena berbeda dengan situs jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter, Kompasiana bersifat terbuka dan bisa dibaca oleh semua orang tanpa perlu mendaftar di website tersebut. Selain itu, Kompasiana juga menjadi tempat untuk menyampaikan berita secara utuh, bukan sekedar dalam bentuk status ataupun kicauan singkat.
Tulisan-tulisan eksklusif dari para Kompasianer di Mesir (dan ulasan lain terkait Mesir) nantinya akan ditampung di Liputan Khusus yang isinya laporan Kompasianer di Mesir dengan tag “mesirbergolak“.

WNI di Mesir: Beritakan Suara Kami…

KOMPAS.com - Warga Indonesia yang bermukim di Mesir melaporkan kondisi terakhir lewat sosial media seperti Kompasiana dan Facebook. Di Facebook, misalnya, sebuah grup bertajuk “MENDESAK EVAKUASI TOTAL MASISIR” dibuat oleh para mahasiswa Indonesia di Mesir. Grup ini berisi informasi dan suara warga Indonesia di sana, baik dari kalangan pekerja maupun mahasiswa.
“Di sini saya mewakili teman-teman mahasiswa di Mesir memohon dengan sangat kepada media di Indonesia untuk memberitakan suara kami para mahasiswa di Mesir yang kami tampung di group yang kami buat,” demikian pesan yang diterima Kompas.com dari Bisyri Ichwan, salah seorang mahasiswa Al-Azhar University yang masih bermukim di Kairo, Jumat (4/2/2011) pagi.
Grup tersebut hingga saat ini memiliki 1163 anggota dan sudah terdapat 540 lebih informasi yang ditayangkan. Salah satunya berasal dari Nour Laila yang sedang bekerja di Mesir. Dia menulis, “hari ini di peringatkan bagi kawan2 yg ada di cairo,mohon jangan keluar rumah pertumpahan darah akan terjadi hari ini,,,tp kita doakan mudah2an gak terjadi apa2,,aminn aminnn amin ya robb.”
Anggota lainnya, Putry Senja Kasih Jasusi, menginformasi kondisi para TKI yang tidak memiliki passport. “kasian teman2 TKI yg tak punya pasport,smua y gemetar ktakutan,mohon d tindak lanjuti!,” tulis Putry.
Laporan Kompasianer
Selain di Facebook, laporan lebih lengkap juga ditayangkan melalui Kompasiana, media sosial berbasis blog yang dibuat Kompas.com. WNI di Mesir yang selalu mengabarkan kondisi di Mesir antara lain Muhammad Irfan dan Bisyri dan Pengeran Cupu.
Irfan terakhir mengabarkan kondisi evakuasi gelombang kedua lewat tulisan berjudul Reportase Langsung Evakuasi Gelombang Ke-2 WNI Mesir. Reportase tersebut dilengkapi foto yang menggambarkan kondisi di KBRI Kairo yang dipenuhi mahasiswa dan mahasiswi Indonesia.
Bisyri, mahasiswa Indonesia di Mesir, juga menginformasikan situasi terakhir usai berjalan-jalan di beberapa sudut Kairo.
Di tulisan berjudul Mesir Terkini yang ditayangkan 2 Februari lalu, dia melaporkan, “Barusan tidak sengaja ketika membuka laptop, internet dihidupkan oleh pemerintah, padahal sejak situasi Mesir tegang mulai tanggal 25 Januari lalu, semua saluran komunikasi diputus. Telpon dimatikan, mengirim SMS tidak bisa, hingga jaringan internet pun tidak bisa.”
Kamis (3/2/2011) kemarin, Bisyri kembali melaprkan kondisi di jalan-jalan kota Kairo lewat sebuah tulisan berjudul Tank di Jalan Cairo.
Sumber: KOMPAS.com

Kenaikan Harga Minyak Dunia bisa tembus 150 dollar AS/ Barrel

JAKARTA, KOMPAS.com — Tren harga minyak dunia tahun 2011 diperkirakan terus meningkat. Kondisi ini terjadi karena tingginya permintaan minyak, sedangkan pasokannya terbatas karena negara-negara non-OPEC sudah berproduksi pada kapasitas maksimal.  

"Kenaikannya sekitar 1,5 juta barrel per hari, terutama di China dan India," kata pengamat perminyakan, Kurtubi, saat dihubungi, Jumat (4/2/2011), di Jakarta.  

Menguatnya tren kenaikan harga minyak dunia juga didorong faktor geopolitik, yakni ketegangan politik di Mesir, terutama jika krisis itu mengakibatkan lumpuhnya Terusan Suez. Kalau terusan itu lumpuh, harga rata-rata minyak mentah utama di pasar internasional atau harga minyak WTI/Nymex bisa menembus 110 dollar AS per barrel karena sebagian besar minyak dari Teluk Persia melewati Terusan Suez menuju Eropa.  

Sejauh ini, krisis di Mesir sudah berlanjut dengan krisis di Yaman. Jika intensitasnya kencang, hal itu bisa menular ke Saudi Arabia. Negara-negara dengan sistem absolut monarkhi saat ini menjadi sasaran tembak demonstran dari Tunisia, Kairo, dan Yaman.  "Kalau ada gejolak di Saudi Arabia yang merupakan produsen utama minyak dunia, harga bisa melejit ke 150 dollar AS per barrel, bahkan 200 dollar AS per barrel," kata dia.
Menurut keterangan Tim Harga Minyak Indonesia sebagaimana dilansir dalam situs Direktorat Jenderal Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, peningkatan harga minyak mentah Indonesia itu sejalan dengan perkembangan harga minyak mentah di pasar internasional.
Kenaikan harga minyak dunia itu disebabkan terhentinya suplai minyak dari jalur pipa Trans-Alaska yang menyalurkan 12 persen produksi minyak mentah AS akibat kebocoran awal Januari lalu.
Faktor lain adalah, musim dingin di belahan bumi bagian utara (Eropa, AS, dan Kanada) yang mengakibatkan peningkatan konsumsi produk minyak, meningkatnya kekhawatiran pasar akan terjadi hambatan suplai minyak lewat Terusan S uez akibat ketegangan politik di Mesir.